Usmar Ismail: Bapak Perfilman Indonesia

Seperti Nabi Ibrahim, ia yang berusaha keras pontang-panting kesana-kemari. Membentuk berbagai organisasi agar film Indonesia punya identitas diri. Karenanya, berbicara soal sejarah dan perkembangan film nasional, baik sebagai seni maupun industri, tak akan bisa lepas dari sosoknya. Dialah wajah perfilman Indonesia di awal terciptanya.

Siapakah Usmar Ismail?
Pria bernama lengkap Usmar Ismail Sutan Mangkuto Ameh ini lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada tanggal 20 Maret 1921. Pada zaman pendudukan Jepang, Usmar bekerja di bagian Pusat Kebudayaan (Kaimin Bunka Sidosha) di Jakarta, bersama Armin Pane dan para budayawan lainnya. Dengan para sastrawan itu Usmar bekerjasama mementaskan beberapa drama sandiwara yang saat itu terkenal dengan nama tonil.

download

Sesudah proklamasi kemerdekaan, Usmar terjun dalam persuratkabaran di Jakarta yang tak lama kemudian pindah ke Yogya atas dampak agresi. Di Yogya ia sempat menjadi anggota TNI dengan pangkat mayor. Pada tahun 1948 Usmar juga sempat bekerja di sebuah perusahaan film milik Belanda. Di tempat inilah ia mendapat pengalaman bekerja sebagai asisten sutradara.

Lalu apa saja peran seorang Usmar Ismail?

  • Mendirikan Perusahaan Film Pertama di Indonesia

Pada 27 Desember 1949, Indonesia berhasil mendapatkan pengakuan kedaulatan dalam Konferensi Meja Bundar (KMB). Keberhasilan ini memberi banyak pengaruh terhadap timbulnya semangat kebangsaan atau nasionalisme pada awal dekade 1950-an.

Semangat kebangsaan ini tidak hanya muncul di kalangan militer dan politik, tetapi juga di kalangan perfilman. Asrul Sani mengungkapkan, bahwa para sineas yang sebelumnya pernah bergabung dengan perusahaan film milik Belanda maupun Jepang, berambisi membantu ‘revolusi Indonesia’ melalui film dan Usmar lah yang pertama kali mewujudkan semangat nasionalisme di bidang perfilman. Bersama Naziruddin, Rosihan Anwar, Basuki Resobowo, Max Tera, Djohan Sjafri, dan Sjawal Mochtaruddin, Usmar Ismail mendirikan perusahaan film pertama di Indonesia bernama Perusahaan Film Indonesia (Perfini) pada 30 Maret 1950. Tujuan didirikannya Perfini adalah untuk:

“…menghasilkan film-film Indonesia jang nasional tjoraknja, tinggi mutu tehnik dan nilai artistiknja dan dapat disedjadjarkan dengan film-film dari manapun di dunia ini.”

Pendirian ini ditandai dengan syuting film pertama Perfini yang berjudul Darah dan Doa. Skenario film ini ditulis oleh penyair Sitor Situmorang dan disutradarai sendiri oleh Usmar Ismail.

  • Memperjuangkan Penayangan Film Indonesia di Bioskop kelas 1

Meskipun pertumbuhan industri perfilman di Indonesia cukup berkembang pesat, hal ini ditandai dengan jumlah produksi film Indonesia yang mengalami peningkatan, tetapi film Indonesia belum mendapat peluang untuk tayang di bioskop kelas 1. Hal ini menantang Usmar Ismail untuk membuktikan bahwa film Indonesia pantas untuk mendapat tempat di bioskop kelas 1.

images

Pada tahun 1953 Usmar Ismail membuat film berjudul Krisis. Film ini merupakan film komedi satir yang menyindir keadaan masyarakat saat itu, yaitu tentang sulitnya mencari tempat tinggal, masalah pergaulan modern, masalah korupsi dan hubungan keluarga. Ia lalu mendatangi sendiri pemilik bioskop Capitol berkewarganegaraan Belanda bernama Weskin dan menawarkan Krisis untuk tayang di bioskop miliknya. Tawaran ini ditolak oleh Weskin yang masih menganggap film Indonesia adalah film kelas bawah. Sakit hati karena penghinaan dan penolakan tersebut, Usmar Ismail meninju dagu Weskin sebelum pergi dari kantornya.

Berbeda dengan Weskin, film Krisis ini diminati oleh General Manager Metroploe Theater bernama Lie Khik Hwie. Dengan begitu Krisis pun tayang di bioskop kelas 1 pada tahun 1954 dan menjadi film Indonesia pertama yang ditayangkan di bioskop kelas 1. Tidak hanya itu, Krisis berhasil tayang selama 4 minggu dengan penghasilan tertinggi menyaingi film produksi MGM yang berjudul Ivanhoe dan Julius Caesar. Maka tidak mengherankan jika film ini menembus box office saat itu.

Usmar Ismail hendak mengulang kembali keberhasilannya dengan membuat sekuel film Krisis berjudul Lagi-Lagi Krisis pada tahun 1955. Film ini digarap dengan lebih baik daripada film sebelumnya. Film ini ternyata tidak seberhasil film sebelumnya. Pada tahun yang sama, Usmar Ismail membuat lagi film berjudul Tamu Agung. Film ini merupakan saduran dari cerita berjudul The Revisor karya penulis Rusia bernama Nikolai Gogol. Film ini dibuat karena Usmar terinspirasi dari situasi politik Indonesia menjelang pemilu. Film Tamu Agung adalah film komedi satir yang menyindir politikus-politikus yang hanya aktif berkampanye di kota-kota saja. Usmar ingin menunjukan bahwa orang-orang di desa juga butuh perhatian. Film ini dibuat untuk diikut sertakan dalam Festival Film Asia pada tahun 1956 dan berhasil meraih penghargaan sebagai film komedi terbaik, tetapi seperti halnya film Lagi-Lagi Krisis, film ini kurang menarik perhatian penonton Indonesia.

Perfini kembali bermasalah dengan hutang. Bank yang memberi pinjaman kepada Perfini mengancam akan menyita gedungnya jika hutang tersebut tidak segera dibayar. Untuk mengatasi hal tersebut, Usmar Ismail membuat film musikal berjudul Tiga Dara pada tahun 1956. film ini berhasil tayang di Capitol Theater, bioskop yang sebelumnya menolak menayangkan Krisis. Ternyata, film ini kembali berhasil menembus box office mengalahkan Krisis.

  • Penyelenggaraan Festival Film Indonesia Pertama pada Tahun 1955
images-3

Dok. Emille Ilmansyah

Bertolak dari pemikiran: “Film hanya akan hidup kalau menjadi perhatian khalayak ramai, maka film harus menjadi berita dan bikin heboh”, maka Djamaluddin Malik, Usmar Ismail, dan Soerjosoemanto bekerjasama mengadakan FFI. Acara ini diketuai oleh Djamaluddin Malik dengan wakilnya RM Soetarto.

Dalam wawancaranya yang dikutip oleh Harian Rakjat, Djamaluddin Malik mengatakan bahwa maksud diadakannya festival ini ialah untuk memberi dorongan kepada perusahaan-perusahaan film untuk memperbaiki mutu film yang mereka produksi demi mengembangkan industri film di Indonesia. Diselenggarakannya festival ini sebenarnya juga untuk menarik perhatian pemerintah terhadap masalah perfilman saat itu yang mulai terancam dengan membanjirnya film-film impor.
Ada 12 judul film yang didaftarkan dalam acara ini. Kedua belas film ini akan diseleksi lagi menjadi tujuh film untuk diikutsertakan dalam Film Festival Asia Tenggara di Singapura pada pertengahan Mei 1955.

Pada tanggal 18 April 1955, pemenang dari festival ini diumumkan dan diselenggarakan di Cathay Theater, bioskop kelas 1 yang belum lama diresmikan. Sayangnya kemeriahan acara tersebut dikacaukan oleh keributan yang terjadi dalam penjurian. Keputusan yang diambil oleh dewan juri ternyata menimbulkan kehebohan. Juri memutuskan untuk memilih dua film sebagai pemenang festival tersebut, yaitu Lewat Djam Malam (Perfini-Persari, Usmar Ismail) dan Tarmina (Persari).

Saat itu, tidak ada yang meragukan kualitas Lewat Djam Malam sebagai pemenang festival. Terpilihnya Tarmina sebagai pemenang-lah yang kurang bisa mereka terima. Dalam bukunya, Salim Said mengungkapkan alasan terpilihnya Tarmina sebagai pemenang festival bersama dengan Lewat Djam Malam, bukanlah karena selera juri, tetapi sebagai keuntungan bagi Djamaluddin Malik yang membiayai seluruh biaya acara ini.

  • Aksi Tutup Studio

Di balik segala usaha dan kerja keras para insan perfilman saat itu dan prestasi-prestasi yang mereka hasilkan, apresiasi yang mereka dapatkan sungguh jauh dari yang mereka harapkan. Setelah Tiga Dara tidak ada lagi film-film Indonesia yang tayang di bioskop kelas 1 juga tak ada dukungan dari pemerintah.

Yang lebih parah lagi, film tak pernah benar-benar dianggap sebagai cabang seni. Usahanya yang komersil membuat film lebih sering dianggap sebagai sebuah industri, tapi mirisnya tidak ada industri film dalam daftar penggolongan usaha (bedrijf-groepering) milik Kementrian Perekonomian. Hal ini diperparah oleh penilaian Presiden terhadap film dalam pertemuannya dengan anggota Parfi.

Djika saja menindjau alam perfilman di Indonesia, rasa puas masih djauh terdapat. Saja bertanja pada diri sendiri quo vadis film Indonesia? Hendak kemana film Indonesia?

Kata-kata presiden dianggap telah memadamkan semangat para artis dan para produser Indonesia, juga melenyapkan minat masyarakat Indonesia terhadap film Indonesia sendiri.

images

Djamaluddin Malik. Pendiri Persari ini adalah ayah dari Ahmad Albar dan Camelia Malik

Hal ini memicu PPFI (Perusatuan Perusahaan Film Indonesia yang didirikan oleh Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik (Persari)) untuk semakin aktif melakukan pendekatan pada pemerintah. Bersama dengan Panitia Penyelidik Industri/Import Film dan Kedudukan Bioskop-bioskop, PPFI mengajukan saran-saran kepada pemerintah terkait dengan masalah perfilman seperti mengadakan pembatasan import dan minimum screen-time, serta pengadaan bantuan kredit.

Pemerintah hanya mampu mengadakan pembatasan terhadap quota film-film import dari Filipina, Malaya, dan India, tetapi tidak disertai dengan pengurangan screen-time (waktu tayang) kuota, sehingga untuk satu judul film, bioskop bisa menayangkannya hingga berminggu-minggu. Terlebih lagi peraturan ini baru berlaku delapan bulan setelah diumumkan, sehingga rentang waktu tersebut dapat digunakan sebaik-baiknya oleh para importir untuk menimbun film India sebanyak-banyaknya. Akibatnya, ketika peraturan tersebut diberlakukan, diperkirakan telah ada 400 film India di gudang para importir. Jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bioskop kelas dua selama tiga tahun.

Pada tahun 1956, Kementrian P&K membentuk Dewan Film Nasional (DFN) guna menangani permasalahan perfilman. DFN kembali memberlakukan wajib putar film Indonesia di bioskop-bioskop kelas 1. Namun, bioskop-bioskop kelas 1 masih sulit menerima film-film Indonesia, sedangkan film Indonesia masih sulit bersanding dengan film-film Hollywood. Keadaan ini semakin mengkhawatirkan karena diperkirakan pada pertengahan tahun 1956 ada sekitar 50 film Indonesia tertumpuk di gudang tanpa jadwal pemutaran.

images-4
Krisis ini semakin diperparah dengan kondisi pemerintahan yang sering berganti-ganti kabinet dan perdana menteri. Hal ini membuat masalah perfilman cenderung terabaikan. Terlebih lagi ada banyak kementerian yang berwenang dalam menangani masalah perfilman, seperti Kementrian Penerangan, Kementrian PP&K, Kementrian Perdagangan, dan juga Panitia Sensor Film. Terbaginya penanganan masalah perfilman dalam beberapa kementrian membuat masalah perfilman tidak ditangani secara terfokus. Hal ini juga membingungkan insan perfilman untuk kemana seharusnya mereka mengadukan masalah mereka.
Dari segala tuntutan yang diajukan oleh PPFI dan upaya pelaksanaannya oleh pemerintah, terlihat jelas bahwa pemerintah menganggap sepele industri film nasional. Bahkan belum ada pengakuan pemerintah terhadap industri film, Maka pada 16 Maret 1957, PPFI mengadakan rapat dengan seluruh anggotanya. Dalam rapat ini diputuskan bahwa PPFI akan menutup semua studio yang tergabung dalam PPFI serentak se-Indonesia pada tanggal 19 Maret 1957. Hal ini dilakukan karena PPFI menganggap sudah tidak ada jalan lain lagi untuk menarik perhatian pemerintah terhadap masalah perfilman nasional.

Aksi tutup studio ini berhasil menyadarkan banyak pihak bahwa film memiliki bargaining yang besar dalam dunia politik. Terlebih lagi saat itu Indonesia tengah dalam keadaan politik yang panas, di mana partai sibuk mencari kubu. Maka sejak itu, sejumlah partai mulai menambahkan film dalam bidang seni mereka. sisi buruknya adalah, film terpaksa harus terlibat dalam perang manipol yang berkembang saat itu dan Usmar Ismail tak lepas menjadi sasaran.

Mempertahankan ‘Seni untuk Seni’ dalam Gempuran ‘Politik adalah Panglima’
Masuknya PKI sebagai 4 partai pemenang Pemilu 1955 membuat PKI menjadi salah satu partai yang dekat dengan Presiden yang saat itu kekeh menjalankan program Nasakom dan Manipol pada tahun 1957. Sejak saat itu PKI gencar dalam melancarkan gerakan ‘Politik adalah Panglima’ termasuk dalam bidang seni dan kebudayaan yang diwakili oleh Lekra. meski banyak perdebatan terkait hubungan Lekra dan PKI, tak dapat dipungkiri keduanya punya asas dan ideologi yang sama. Lekra pun aktif menyerang seniman-seniman yang menolak memberi unsur politik dalam karya mereka. Usmar Ismail pun tak terhindarkan. Beberapa kali karyanya dijegal untuk batal tayang di bioskop, seperti Pagar Kawat Berduri, Perempuan di Sarang Penyamun, Djenderal Kantjil dan film yang digarap bersama dengan Kementerian Agama dan Penerangan yang berkisah tentang perjalanan haji sesuai dengan ide presiden.

images-5

Asrul Sani

Meski penolakannya terhadap unsur politik dalam karyanya, ia tak mengelak bahwa berlindung di bawah payung partai adalah hal yang penting. Hal ini pula yang menginspirasi Usmar Ismail dan Asrul Sani untuk mendirikan lembaga kebudayaan tandingan. Mereka pun mendekati Djamaluddin Malik yang merupakan anggota Partai NU. NU dipilih karena NU pun merupakan bagian dari parati Nasakom yang mewakili unsur agama. Pendekatan ini berhasil membuat berdirinya Lembaga Seniman dan Budajawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) yang mengusung asas humanis-religius.

Pendirian Lesbumi membuat perang semakin terbuka. Karena ketika pemerintah mendirikan Dewan Film Indonesia, kedua ini pun berebut untuk menguasai badan tersebut. Puncaknya adalah ketika presiden mengeluarkan Penetapan Presiden No.1 tahun 1964 Tentang Pembinaan Perfilman di mana Kementerian Penerangan sebagai pembina perfilman. Ini dianggap kemenangan kubu Lesbumi karena Kementerian Penerangan dianggap dekat dengan kubu agama.

Penolakan pun terjadi dari kubu Lekra dengan menggelar bermacam-macam musyawarah dengan puncaknya adalah aksi pemboikotan film Amerika yang ditandai dengan penyerbuan ke gedung AMPAI (American Motion Picture Association in Indonesia). Hal ini dianggap sebagai kemenangan kubu Lekra yang berkahir dengan perpecahan di tubuh dunia perfilman. Namun kemenangan ini tak berumur panjang dengan terjadinya aksi kudeta dimana PKI dituding sebagai pelakunya. Pembasmian segala hal yang berbau komunis pun dilakukan. Apakah kubu non-komunis akhirnya jadi pemenang? Tidak juga karena produksi film pasca kudeta pun memberatkan. Film-film yang diperankan oleh aktor-aktris yang terlibat dalam Lekra pun dilarang tayang dan sekali lagi bioskop Indonesia diramaikan oleh film-film import, kali ini dari Jepang dan atas prakarsa pemerintah sendiri yang menilai saat itu Indonesia butuh film-film yang membangkitkan semangat.

  • Akhir dari Perjuangan

Pasca kudeta, Lesbumi pun habis riwayatnya. NU tak lagi tertarik membina dunia seni setelah tak ada lagi pesaing berarti. Pada tahun 1971, 6 tahun setelah kudeta, Usmar Ismail tutup usia. Usmar Ismail meninggal pada 2 Januari 1971 dalam usia 45 tahun tanpa meninggalkan warisan yang berarti bagi keluarga tapi meninggalkan warisan yang besar bagi dunia perfilman.

Hari pertama dimulainya syuting Darah dan Doa diperingati sebagai Hari Film Nasional, yaitu 30 Maret. Karen apada hari itulah film Indonesia pertama digarap. Sebelumnya penetapan ini sempat ditentang oleh PKI yang memilih 31 Desember sebagai Hari Film Nasional. Hal ini berdasar pada tanggal rilisnya film Loetoeng Kasaroeng. Tapi coba pertimbangkan, saat itu (1926) Indonesia belum berdiri. Film itupun, meski diperankan oleh warga pribumi, tapi tidak digarap oleh orang Indonesia tapi oleh orang Hindia Belanda.

Salah satu penghargaan pada jasa Usmar Ismail adalah dengan didirikannya Pusat Pefilman Haji Usmar Ismail di kawasan Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, yang di dalamnya terdapat Perpustakaan Sinematek yang menyimpan arsip-arsip penting perfilman. Surga!

Entah apa lagi jasanya. Mungkin banyak terlewat saya sebutkan dalam tulisan ala kadarnya ini demi mengejar deadline untuk mengikuti gerakan #MendadakNgeblog bertema #WajahPerfilmanIndonesia. Maaf jika tulisannya pun melebar jauh atau malah kurang fokus atau malah tidak menyentuh isi. Tapi saya berharap tulisan ini bisa menginformasi dan menginspirasi. Hahaha…

Advertisements

2 thoughts on “Usmar Ismail: Bapak Perfilman Indonesia

  1. Waow…aku taunya beliau cuma bikin Tiga Dara (maklum ga begitu ngikutin perfilman banget). Tapi dari tulisanmu ini aku rasa masalah perfilman Indonesia dari dulu sik mbulet aja ya ternyata. 60 th lebih loh isunya sama 😅 dan apa yg diangkat di film Krisis, ternyata sama aja dg kondisi sekarang. Ini kita yg nggak jalan kemana-mana apa memang setiap jaman sll ada isu yang sama? 😅😅😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s