Poster Café: Surga Gerilyawan Musik

 

Hmmmm… bicara soal musik, saya gak tahu apa yang perlu saya bicarakan, karena saya tidak tahu banyak bahkan sedang sama sekali tidak mengikuti perkembangan.

laguTengoklah playlist yang saya dengarkan tiap hari, baik di PC, HP atau iPod, semuanya lagu yang bukan dirilis di tahun ini. Jadi saya sama sekali tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Saya merasa kampungan.

 

Tapi ada perlunya menulis soal ini, karena sudah terlalu banyak bertebaran sarang laba-laba di kolom ‘Musik’ blog ini. Jadi ikut serta dalam #MendadakNgeblog sepertinya adalah sebuah langkah yang baik. Sayangnya temanya berat sekali. Astaga, ‘Menyelamatkan Musik Indonesia’. Coba lihat daftar lagu di playlist saya, 90% adalah lagu barat. Apakah saya punya hak berbicara soal menyelamatkan musik Indonesia?

Maka, ini adalah waktu yang tepat untuk ngomongin orang! Hahahaha….

Sekitar tahun 2014 atau mungkin 2015. Hmmm.. sepertinya 2014. Maaf saya tidak ingat. Saya pernah hadir pada sebuah gigs yang uniknya di gelar di pelataran Museum Satria Mandala milik TNI. Unik karena pagelaran hingar-bingar seperti ini diadakan di sebuah tempat yang sepertinya ‘angker’ untuk beberapa kalangan yang punya prinsip hidup bebas.

Tentu ada beberapa petugas keamanan yang ikut memantau jalannya acara. Tapi itu tidak membuat kami merasa dimata-matai, diawasi atau jadi merasa yang bagaimana gitu. Mereka tidak melarang kami begini-begitu. Menarik ya? Dan ini membuat saya penasaran, kok bisa acara kayak gini digelar di tempat seperti ini?

Gerakan Sporadis
Kita tidak sedang berbicara soal perang. Gerakan ini dilakukan para musisi underground. Asal kamu tahu, sebelum istilah ini lekat dengan musik-musik keras, istilah ini digunakan demi merujuk pada gerakan para pemuda pada masa Orde Lama. Ketika musik ‘ngak-ngek-ngok’ dilarang, maka banyak pemuda yang melakukan perlawanan dengan menggelar acara-acara musik yang kebarat-baratan secara sembunyi-sembunyi alias underground. Gerakan mereka pun sporadis, tidak berpusat di satu tempat.
Namun pada perkembangannya, istilah underground digunakan sebagai perlawanan terhadap perkembangan musik arus utama, yang tidak memberi tempat pada jenis-jenis musik yang ‘aneh’ atau ‘berbeda’.

Istilah baru pun berkembang pada masa itu, yaitu D-I-Y (do it yourself) yang berkembang pada dekade 1970-an. Gerakan ini sebenarnya bermula di negara barat, yang mendapat sambutan hangat dari mereka-mereka yang mengidolakan Sex Pistols dan band-band sejenisnya, meski sebenarnya bukan Sex Pistols pencetusnya. Maka tak heran jika musik yang dimainkan pun juga kebanyakan lagu-lagu barat dan keras. Salah satu band lokal yang mencolok dari gerakan ini adalah Guruh Gypsi, yang menjual kasetnya melalui toko viagra. Juga ada Gang Pegangsaan yang kemudian berganti nama menjadi God Bless, dan sebagainya.

Gerakan ini masih berlanjut hingga menjelang akhir dekade 1980-an, karena coba saja kau tengok lagu-lagu top 40 era itu, yang ramai berkembang adalah musik-musik cengeng a la Rinto. Masih belum ada tempat bagi musik-musik yang dikenal segmented ini.

Poster Cafe
Perjuangan masih berlanjut hingga dekade 1990-an. Di awal dekade ini, tepatnya pada tahun 1993, Metalica sempat menyambangi ibukota. Meski bisa dibilang sebagai sebuah kebanggaan, konser ini sempat menimbulkan trauma.

Dijadwalkan tampil 2 malam berturut-turut, keduanya sukses memicu aksi rusuh. Kebakaran dan penjarahan terjadi dimana-mana dan tentunya menimbulkan trauma bagi pemerintah atau mungkin juga promotor untuk mendatangkan musisi musik keras lagi. Cap anak nakal bagi para pecinta musik ini pun tersemat semakin dalam.

Meski begitu, ada sebuah kebanggaan. Band lokal bernama ROTOR didaulat sebagai band pembuka konser Metalica. ROTOR makin banyak menerima undangan tampil dan mampu menelurkan sebuah album dengan bantuan label dan semakin banyak pula band-band serupa yang bermunculan.

Pada saat itu, meski masih terbilang sporadis, sudah ada beberapa tempat yang secara rutin jadi tempat para scenester ini mencurahkan hasrat seni mereka, seperti Apotek Retna di Cilandak dan Pid’s Pub di Pondok Indah. Hingga akhirnya muncul Poster Cafe. Kabarnya, cafe ini merupakan milik Ahmad Albar, musisi legendaris pentolan God Bless. Dan kamu tau cafe ini terletak di mana? Di Museum ABRI alias Museum Satria Mandala!

Tak ada keterangan yang menjelaskan kenapa cafe yang menyajikan musik seperti ini bisa bermarkas di kantong militer, tapi jika boleh mengambil kesimpulan sepihak, mungkin di sinilah justru mereka bisa aman tanpa takut digerebek, dan tentara sendiri dapat memastikan bahwa mereka tidak akan memicu keributan.

Lalu apa yang membedakan Poster dengan tempat-tempat lainnya? Poster memiliki moto ‘No Fans, All Friends’. Jadi tidak ada pemisah antara musisi yang sudah terkenal dengan pengunjung. Setiap orang boleh tampil ke atas panggung menampilkan musik-musik yang mereka suka. Poster bagai tempat di mana semua genre berlabuh. Mulai dari punk, metal, britpop, ska dan lainnya.

poster_jkt_bawah_tanah

Dok: Disorder Zine

Saya yakin kamu semua tahu band-band seperti Naif, Netral (yang sekarang berganti nama menjadi NTRL), Siksa Kubur, Homicide, Pure Saturday, Club 80’s, The Brandals, Rumah Sakit, Nine Inch Nails, Tengkorak, Purgatory, bahkan Java Jive adalah band-band kelahiran Poster Cafe, termasuk juga The Upstair. Band-band lainnya adalah band-band cadas yang musiknya asing di telinga saya. Hahaha…

Awalnya mereka tampil dengan menyanyikan lagu-lagu dari band idola mereka hingga muncul semacam kompetisi samar untuk menciptakan lagu sendiri. Ini menjadi kebanggan tersendiri yang menciptakan kasta samar di antara mereka: siapa yang bisa menciptakan lagu maka kastanya naik.

Melalui Poster pula berkembang indie label dengan bantuan majalah-majalah musik dan radio yang ada, seperti Hai dan Prambors contohnya. Dari sini pula muncul semacam perang terbuka dengan musisi arus utama yang perangnya berlanjut sampai sekarang. Mereka ingin TV, radio hingga pensi menampilkan musik yang menurut mereka punya kualitas lebih baik. Mereka ingin jenis musik yang mereka suka ikut berjaya. Sampai sini, saya punya kesimpulan mereka bagai pahlawan. Karena berkat musisi Poster, kita bisa tahu berbagai musik. Kita tidak melulu harus dengar musik pop. Kita bisa memilih apa yang kita mau! Kita merdeka atas pilihan kita, termasuk soal selera musik.

Akhir dari Poster Cafe

images

Yang Tersisa dari Poster Cafe. Foto diambil tahun 2014. Dok: Disorder Zine

Sayangnya, mereka jugalah yang menghancurkan cita-cita mereka sendiri. Rasa cinta mereka yang berlebih pada idola ternyata merusak mereka. musik-musik yang banyak dimainkan di Poster cenderung lekat dengan gaya hidup yang merusak. Sudah seperti tradisi, menikmati musik dengan segelas minuman keras atau sebutir pil atau sesuntik tepung. Berada di bawah pengaruh zat berbahaya dapat membuat mereka kehilangan kontrol, maka tak heran di akhir dekade 1990-an banyak kerusuhan mewarnai aksi panggung mereka, di luar atau di dalam Poster. Hal ini ditengarai menjadi salah satu pemicu berakhirnya era Poster.

Pemicu lainnya adalah masalah finansial. Tak semua pengunjung Poster datang untuk minum, kadang mereka bahkan tak punya duit untuk itu, atau bahkan sebagian merasa enggan untuk membayar tiket. Tentu ini berpengaruh pada keberlangsungan cafe. Maka pada tahun 1999 Poster ditutup dan berganti menjadi Jakarta Club yang juga bangkrut tak lama kemudian. Sejak itu pihak museum tak lagi menyewakan bangunan di pojokan tersebut untuk bisnis apapun.

Meski begitu perjuangan para musisi indie masih berlanjut dan semakin ke sini saya semakin melihat hasilnya. Komposisi musisi indie dan label di TV semakin seimbang. Musisi indie pun makin merajai gigs-gigs di ibukota, dan semoga saja di luar Jakarta. Aamiin.

*tulisan ini dirangkum dari berbagai sumber yang pernah penulis baca, jadi maaf jika datanya kurang detail
**bagian tentang Poster Cafe banyak diambil dari artikel berjudul Kemerdekaan Bawah Tanah #1 dari web wearedisorder.net

Advertisements

6 thoughts on “Poster Café: Surga Gerilyawan Musik

  1. Baru tau ini hehe.. Bagus mbak. Informatif sekali. Tp skr mereka larinya pada kemana ya? Apa kebanyakn sdh jadi musisi besar lalu sampai disitu saja?

    Cerita ini macam bner2 baca gerakan bawah tanah 😁 seru-seru sedap~
    Ikutan lagi tantangan selanjutnya yaaa

    • Karna skrg udah makin diterima, gerakannya udah gak underground lagi mbak. Gigs udah makin banyak. Eventnya juga udah makin sering. Siapa tau mbak pernah dateng ke salah satunya.
      Untuk musik2 cadas juga gitu. Dulu pernah ada Java Rockin’ Land. Atau yg suka ada di Bulungan. Pernah juga ada tiap malem jumat di kampus apa gitu di Bekasi. Nah yg paling terkenal mungkin Jakcloth..

  2. Tes… Postingan yg tadi masuk nggak ya.
    Informatif bgt mbak. Baca tulisanmu bner2 kayak ngerasain gerakan bawah tanah lagi mmperjuangkan apaaaa gitu. Heehe. Seru ya. Lalu setelah bubar mereka kemana ya? Apa krn kbnyakan sdh jadi musisi besar lalu sampai situ saja apa gmn ya? Hmm…

    Ikutan lagi ya mbak selanjutnya 😊 biar rame ehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s