Get Lost in Ubud, Bali Part 2: UWRF16 and Petulu Village

Here is our main destinations! Ubud Writers and Readers Festival 2016 and watching kokokan phenomenon in Desa Petulu. So here is the story…

2016_1027_15303100

Ubud Writers and Readers Festival 2016

Tahun ini merupakan tahun ke-13 festival ini diselenggarakan. Pertama kali festival ini diselenggarakan pada tahun 2003 sebagai upaya untuk memulihkan hubungan Indonesia-Australia pasca tragedy bom di Bali. Ide penyelenggarakan festival ini pun muncul dari para warga Australia, jadi tak heran jika yang datang juga kebanyakan bule dari sana. Event ini digelar di berbagai venue di Ubud. Untuk tahun ini diselenggarakan di Neka Art Museum, Taman Baca, Indus Restaurant dan café serta bar lainnya.

2016_1027_10170900

Eka Kurniawan saat sedang sesi tanda tangan

Kami memilih datang hanya di hari pertama karena waktu dan budget yang terbatas. Hahaha… pemilihan hari pertama pun karena di hari itu ada penulis favourite kita berdua, yaitu Eka Kurniawan (!) dan Seno Gumira Ajidarma. Bahkan keduanya hadir dalam 2 sesi dalam satu hari di venue yang sama, yaitu Neka dan Taman Baca.

Yang paling seru tentu aja di acara fokusnya Eka Kurniawan yang membahas bukunya yang berjudul Beauty is a Wound atau Cantik Itu Luka. Tapi ujung-ujungnya sih pembahasan juga menyerempet ke buku yang ditulis sebelumnya, yaitu Manusia harimau atau Man Tiger.

Dalam sesi ini, Eka Kurniawan banyak diserang soal kisah sensual dan seksual yang mendominasi bukunya yang dengan jujur dijawab Eka karena ia telalu banyak menyantap tulisan porno di masa mudanya. Ia juga banyak diserang pertanyaan seputar plagiarisme yang mampu dijawabnya dengan baik.

Untuk sesi di Neka Art Museum, semua sesi dimoderasi oleh anchor ternama Desi Anwar yang udah jadi pembaca berita dari jaman SD waktu dia masih di RCTI sampe sekarang dia udah pindah di CNN. Awalnya sama sekali gak ngeh kalau itu Desi Anwar karena sosok aslinya terlihat lebih muda daripada yang terlihat di TV dan tentunya lebih cantik!

 

img-20161109-wa0005

Saking bahagianya ketemu Eka Kurniawan ampe gak sadar kalo di sebelahnya ada Desi Anwar yang melirik sinis. ahahaha…

Bincang-bincang dengan Seniman Militan Art

2016_1027_11395700

Salah satu venue UWRF yang menarik adalah di Taman Baca. Di lokasi ini terdapat banyak berbagai instalasi seni yang dipajang di berbagai sudut dan beuntungnya kami bisa berbincang dengan salah satu senimannya.

2016_1027_11303200

Dalam ajang UWRF kali ini, penyelenggara menggaet sejumlah seniman yang tergabung dalam Militan Art. Uniknya, setiap anggota Militan Art adalah anggota dari berbagai komunitas di luar Bali yang bersatu bergabung dalam Militan Art.

Selain berbincang dengan seniman Militan Art bernama Beli Kenak, kami juga bercumpa dengan penari-penari cilik yang aktif sekali berlari-lari kesana kemari. Penasaran dengan mereka, saya pun mendekat untuk berbincang dan tentunya mengambil foto. Sang pelatih sempat memberitahu nama sanggar mereka tapi sayangnya saya pelupa parah. Tapi satu yang tak kan pernah saya lupa, mereka adalah penari-penari tuna rungu. Saya sungguh sangat penasaran bagaimana cara mereka beraksi di atas panggung mengikuti irama jika mereka tidak bisa mendengar?

 

Burung Kokokan di Desa Petulu, Ubud

Dari Taman Baca kami langsung melesat ke Desa Petulu untuk melihat keajaiban di sana. Masyarakat menyarankan untuk datang sebelum senja. Maka kami berangkat sekitar pukul 5 kurang dengan menyewa taksi. Taksi di sini bukan taksi berlabel ya, tapi mobil milik warga yang bisa kita sewa. Harganya cukup mahal. Makanya saya sarankan untuk menyewa mobil aja sekalian untuk dipakai seharian penuh.

Ada yang perlu kamu tahu soal Desa Petulu. Desa ini merupakan sarang burung kokokan dari seluruh Bali. Sebuah keajaiban melihat burung ini terbang dari segala penjuru saat menjelang senja. Jadi kamu ga usah heran melihat jalanan desa yang penuh dengan kotorannya serta bulu-bulu yang berterbangan. Uniknya, burung ini pun hanya bersarang di satu jalur jalanan saja dan hanya bersarang di pohon beringin.

11

Lalu, apa sih yang menyebabkan mereka bersarang di desa ini? Jadi ada 2 kisah soal ini.

Yang pertama, burung-burung ini mulai bersarang di Desa Petulu sekitar tahun 1965. Konon tak lama setelah terjadinya pembantaian orang-orang yang dituduh sebagai anggota PKI, jasad mereka tidak pernah dipulangkan maka munculah mitos yang mengatakan bahwa burung-burung ini adalah jelmaan dari mereka yang tak pernah pulang, yang rindu rumah dan keluarga mereka.

8

Guide kami waktu berkunjung ke Desa Petulu tapi saya lupa siapa namanya

Tapi guide kami, yang merupakan warga asli Desa Petulu, membantah kisah di atas sebagai penyebab kokokan bersarang di desanya. Ia pun bercerita bahwa setelah terjadinya pembantaian, warga menggelar sebuah upacara adat sebagai bentuk penyucian desa serta upaya untuk menjauhkan desa dari bentuk-bentuk kesialan lainnya. Mereka pun percaya burung-burung kokokan ini merupakan jawaban dari doa mereka.

Apa yang membuat mereka yakin akan hal itu?

Pertama, burung-burung tersebut hanya hinggap di pohon-pohon beringin di jalur yang sama, tidak di jalur lainnya, tidak di pohon lainnya. Hal ini dipercaya Karena pohon beringin menyimpan energi yang kuat.

Kedua, warna burung kokokan sendiri mewakili kepercayaan Hindu di Bali. Warna putih dan emas pada kokokan sama dengan warna pakaian khas mereka saat beribadah ke pura.

Ketiga, mereka yakin kehadiran kokokan adalah sebagai penjaga masyarakat desa dari segala marabahaya.

 

Women of Words Poetry Slam

Acara ini merupakan bagian dari Ubud Writers and Readers Festival 2016. Acara ini diselenggarakan di Betel Nut Café yang terletak di Jalan Raya Ubud. Menyenangkan berada di event seperti ini karena rasanya sudah lamaaaaaaaa sekali tidak berada pada suatu forum seni yang se-ekspresif ini. Terakhir sepertinya ketika seru-seruan ikut berbagai acara di kampus. Sama sekali gak inget apa pernah ikut yang seperti ini setelah lulus kuliah. Intinya menyenangkan!

slam

Dalam acara ini, setiap wanita bebas mendaftarkan dirinya untuk naik ke atas panggung untuk menyuarakan isi hati dan pikiran mereka, yang umumnya dalam bentuk puisi, tentang segala hal yang berkaitan dengan perempuan. Seru! Karena beberapa berani membicarakan hal yang taboo, beberapa begitu marah, beberapa begitu sedih dan beberapa tak sungkan menunjukkan sisi lainnya.

Kita bisa berteriak-teriak atau tepuk tangan sepuasnya jika perasaan kita merasa terwakili. Hal ini semakin semarak ketika setiap jeda diputarkan lagu Gurindam 12 Raja Ali oleh Jogja Hip Hop Foundation. Agak gak nyambung ya, Ubud tapi muternya band Jogja. Tapi seru kok gw seneng! Hahaha…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s