Get Lost in Ubud, Bali Part 1: Museum Blanco and Pura Taman Saraswati!

Bali was never on my list. Jadi ketika seorang teman bernama Adel mengajak berpetualang ke sana, gw reflek menjawah “nah…”. Gak tau kenapa, mungkin karena terlalu mainstream dan fancy jadi sama sekali gak tertarik. Tapi ketika Adel merespon balik dengan bilang,

 

“Kita ke Ubud, Ray. Ke acara Ubud Writers and Readers Festival!”

 

Gw langsung berpikir ulang. Wah, Ubud… dengar-dengar Ubud masih jauh dari hirukpikuk Denpasar dan masih sangat tradisional. Cocok bagi orang-orang yang sedang berdiri di ambang jurang depresi, sepertinya Ubud adalah penyelamat yang tepat. Terlebih lagi ketika gw tau ternyata Eka Kurniawan menjadi salah satu pembicara dalam event tersebut. Men! Gw langsung jadi lebih semangat dibanding Adel. Hahaha…

 

Dan alangkah beruntungnya saat itu kita berhasil dapat tiket promo AirAsia PP hanya Rp 750 ribu. Kita sepakat untuk berangkat pada selasa malam, 25 Oktober 2016, tepatnya pada pukul 09.25 WIB. Oia, kita waktu itu dapat partner tambahan, yaitu Eries yang merupakan teman kantor Adel yang ternyata adalah junior kita di kampus meski beda jurusan. Wah, asik makin rame!

img-20161030-wa0021

 

Kita sampai di Bandara I Gusti Ngurah Rai pada pukul 00:25 WITA. Demi menghemat budget dan agak parno mesen taksi malem-malem, akhirnya kita memutuskan untuk menginap di bandara sambil menunggu pagi. Pada pukul 06:00 WITA kita langsung order Grab Car menuju Ubud. Karena jalanan masih sepi, perjalanan menuju Ubud hanya sekitar satu jam aja.

 

Awalnya kita berniat cari-cari sarapan dulu karena lapar. Maunya sih jajanan pasar yang khas gitu, seperti bubur bali dan sejenisnya. Tapi karena kecapekan, maka ketika kita lihat sebuah hostel berlabel “Happy Monkey Hostel”, kita langsung memutuskan untuk mampir kesana dan istirahat dulu.

img-20161028-wa0002

 

Happy Monkey Hostel ini merupakan dorm atau istilahnya hotel backpacker di mana dalam satu kamar terdiri dari 5 kasur tingkat dua. Yang tiap kasurnya sudah dilengkapi loker, colokan listrik, lampu, meja mini dan gantungan baju. Ini juga sudah include wifii dan sarapan dengan menu banana pancake. Minumnya bisa pilih mau kopi atau teh. Perfect! Yang gak perfect adalah toiletnya soalnya hanya ada 1 toilet jadi kita mesti antri.

 

Museum Blanco

Siang pun datang dan sasaran pertama kita adalah the Blanco Renaissance Museum. Tempat ini luar biasa! Kita udah kagum dari pertama kita masuk karena halamannya luas dan adem banyak pohon. Sayang keindahannya tertutup oleh persiapan pembukaan UWRF yang masih berantakan di sana-sini. Kita sampai gak sadar kalau gerbang masuk gedung museumnya berbentuk tandatangan sang pelukis, Antonio Blanco.

2016_1026_13043400

 

Nah ada yang unik dari tandatangan ini. Ini bukan tandatangan asli, tapi inilah symbol Blanco. Symbol ini didapat dengan melipat tandatangan sang maestro menjadi sedemikian rupa. Dan kalau kamu perhatikan, tandatangan ini berbentuk tubuh perempuan yang sedang mengangkang. Hahahaha…

don-antonio-blanco-museum

Source: munaribali.com

 

Untuk info saja, selama di dalam museum kamu tidak diperkenankan mengambil gambar. Kamu hanya diperbolehkan mengambil di pintu masuk museum aja. Serta di balkon lantai 3 saja. Agak kecewa sih Karena banyak yang menarik di sana, seperti contohnya adalah Kamar Erotical di mana kamu bisa melihat khayalan-khayalan seksual sang maestro. Semoga kamu dapat guide yang asik seperti yang gw dapat. Soalnya dia gak Cuma kasih info, tapi juga bisa bikin kamu ngakak-ngakak dengan info yang dikasih. Jadi gak bosan.

 

Oia, tiket masuk yang kamu dapat bisa kamu tukarkan di Rondji Restaurant yang berada satu area dengan museum. Nanti kamu akan dapat secangkir kecil welcome drink yang merupakan ekstrak dari bunga kembang sepatu berwarna pink yang seger banget! Adel bahkan ketagihan dan memesan minuman yang sama ukuran besar. Gak Cuma itu, bahkan tempatnya juga teduh banget. Betah deh berlama-lama di sana.

 

Nama Rondji merupakan nama dari istri sang maestro. Meski Antonio Blanco senang menggambar wanita-wanita telanjang, tapi seumur hidupnya dia hanya punya satu istri, yaitu Nyai Rondji sang penari.

 

Pura Taman Saraswati

Setelah berjalan sekitar 15 menit dari Museum Blanco, kami menyempatkan mampir ke Pura Taman Saraswati yang lokasinya sangat instagrammable sekali. kebetulan saat itu sedang ada yang prewedding di sana. Kalau dari bahasanya sih kayaknya mereka dari Chinna atau Taiwan.

2016_1026_16372700

Canggih ya? Orang asing aja preweddnya di Ubud. Masa kamu cuma di studio foto aja? hehehe… minta ditonjok

2016_1026_16382500

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s